Tradisi Rihlah dalam Menuntut Ilmu
Tradisi Rihlah dalam Menuntut Ilmu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 15 Dzulhijjah 1447 H / 1 Juni 2026 M.
Kajian Tentang Tradisi Rihlah dalam Menuntut Ilmu
Di dalam Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa Jalla menceritakan kisah merantaunya Nabi Musa Alaihis Salam untuk berguru kepada Nabi Khidir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman menceritakan tekad perjalanan Nabi Musa:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahf[18]: 60)
Kisah perantauan ilmu antara Nabi Musa dan Nabi Khidir tersebut diabadikan secara panjang lebar oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an (QS. Al-Kahf[18]: 60-82). Ayat-ayat tersebut memuat dialog serta beberapa peristiwa penting yang menunjukkan bahwa seorang nabi pun melakukan perantauan demi mendapatkan ilmu.
Perantauan Sahabat dan Ulama demi Hidayah
Selain dari kehidupan para nabi, contoh nyata mengenai perjuangan keras merantau demi mencari hidayah dan ilmu juga dapat dilihat dari kehidupan para sahabat. Salah satu sosok yang menjadi teladan dalam hal ini adalah Sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu anhu. Berdasarkan nama belakangnya, beliau berasal dari Persia, yang pada masa sekarang meliputi wilayah Iran dan Afghanistan.
Salman Al-Farisi radhiallahu anhu rela meninggalkan kampung halamannya di Persia demi mencari kebenaran agama. Catatan sejarah menunjukkan bahwa ada sekitar lima wilayah atau negara masa kini yang beliau lewati dalam proses perantauan tersebut:
- Persia sebagai daerah asal.
- Syam, yang pada masa sekarang meliputi wilayah Suriah, Libanon, dan Palestina.
- Mosul, yang sekarang berada di wilayah Irak.
- Nasibin dan Amuriah, yang saat ini berada di wilayah Turki.
- Madinah, yang berada di wilayah Arab Saudi sebagai tujuan akhir perantauan beliau.
Perjalanan yang ditempuh oleh Salman Al-Farisi radhiallahu anhu merupakan perantauan besar lintas negara yang membutuhkan perjuangan luar biasa.
Tradisi mulia ini kemudian diteruskan oleh para ulama dari generasi ke generasi. Sejarah mencatat ada sebagian ulama yang melakukan perantauan menuntut ilmu dan baru kembali ke kampung halamannya setelah empat puluh tahun lamanya. Pada abad ke-4 Hijriah, seorang ulama besar bernama Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah bahkan menulis sebuah kitab khusus yang mengumpulkan kisah-kisah perjuangan para ulama terdahulu dalam merantau mencari ilmu, yang berjudul Ar-Rihlatu fi Tholabil Hadits.
Apabila orang tua melepaskan anak-anak mereka hari ini untuk pergi meninggalkan rumah dalam rangka masuk ke pondok pesantren atau menuntut ilmu ke luar daerah, hal itu menandakan bahwa anak-anak tersebut sedang meniti jalan mulia yang dahulu telah dilewati oleh manusia-manusia istimewa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Aktivitas merantau untuk menuntut ilmu bukan merupakan sesuatu yang baru. Sejak zaman dahulu, para ulama bahkan para nabi sudah melakukan hal yang serupa. Mengenai usia yang tepat untuk mengizinkan anak merantau, tidak ada batasan umur pasti yang seragam antara satu anak dengan anak yang lain. Hal ini disebabkan karena kesiapan mental setiap anak berbeda-beda.
Pada zaman dahulu, ada anak usia sekolah dasar (SD) yang sudah mampu mencari uang sendiri. Sementara pada masa sekarang, ada anak yang sudah menyelesaikan jenjang pendidikan strata satu (S1) tetapi masih meminta pemenuhan kebutuhan finansial dari orang tuanya.
Secara umum, anak usia SMP sekitar umur 13 tahun atau usia SMA dinilai sudah memiliki kemandirian yang lumayan untuk ukuran zaman sekarang. Sebaliknya, anak yang masih berada di usia sekolah dasar tampaknya belum siap untuk merantau karena masih sangat membutuhkan kasih sayang serta perhatian maksimal dari orang tuanya. Anak usia sekolah dasar juga masih memerlukan latihan untuk mengurusi dirinya sendiri. Oleh karena itu, usia setelah tamat sekolah dasar, yaitu usia SMP atau SMA, menjadi salah satu waktu yang cukup ideal untuk melepaskan anak merantau.
Manfaat Merantau: Menambah Ilmu Agama
Terdapat sekurang-kurangnya tiga manfaat besar dari keputusan melepas anak untuk merantau, meskipun manfaat sebenarnya tidak terbatas pada jumlah tersebut. Manfaat pertama yang paling utama adalah merantau dapat menambah ilmu agama anak.
Ilmu agama merupakan modal dan bekal yang paling berharga dalam menjalani kehidupan, melebihi nilai harta, jabatan, maupun popularitas.
Ilmu agama memang bisa dipelajari di rumah. Para ulama dahulu juga mengawali proses belajar mereka di lingkungan rumah dengan berguru kepada orang tua masing-masing, baik kepada ibu maupun ayah mereka. Setelah menyelesaikan tahapan belajar bersama orang tua, mereka kemudian melanjutkan belajar kepada para ulama yang berada di kampung halamannya. Jika disetarakan dengan kondisi sekarang, tahapan awal ini seperti belajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) atau menghadiri pengajian rutin para ustadz di masjid sekitar rumah.
Namun, jenjang ilmu agama akan terus meningkat. Ketika anak telah menguasai ilmu-ilmu dasar di rumah dan bersiap naik ke level yang lebih tinggi, kemampuan orang tua untuk mengajar biasanya mulai terbatas karena orang tua sendiri masih dalam proses belajar. Pada titik inilah anak memerlukan tempat lain yang menyediakan waktu belajar ilmu agama yang lebih banyak dan terstruktur.
Kondisi belajar di lembaga khusus atau pesantren tentu berbeda dengan kondisi belajar di rumah. Saat berada di rumah, durasi anak membaca Al-Qur’an sangat terbatas, terkadang hanya berkisar antara 10 menit, 15 menit, atau paling lama 1 jam. Durasi 1 jam membaca Al-Qur’an di rumah sudah termasuk pencapaian yang sangat istimewa untuk ukuran anak-anak masa kini.
Alokasi waktu belajar bagi anak yang berada di pondok pesantren berlangsung sangat intensif, yaitu mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur. Melalui sistem perantauan ini, waktu yang digunakan oleh anak untuk mempelajari ilmu agama menjadi jauh lebih banyak. Selain itu, guru yang membimbing anak di lembaga pesantren juga lebih beragam jika dibandingkan dengan bimbingan di rumah.
Proses belajar bersama orang tua sendiri belum tentu membuat anak bersikap serius. Terdapat sebuah fenomena bahwa anak seorang kiai sering kali lebih berhasil ketika dididik oleh kiai yang lain. Hal ini terjadi karena adakalanya perasaan sayang yang berlebihan dari orang tua justru membuat proses pembelajaran berjalan kurang maksimal. Saat melihat darah dagingnya sendiri menangis atau kelelahan, orang tua mudah merasa iba. Oleh karena itu, anak memerlukan figur pendidik lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan langsung.
Di lingkungan pondok pesantren, anak akan dibimbing oleh belasan guru yang memiliki keahlian berbeda-beda. Guru pertama ahli dalam ilmu akidah, guru kedua ahli dalam ilmu tafsir, guru ketiga ahli dalam ilmu hadits, dan guru keempat ahli dalam ilmu bahasa Arab. Melalui sistem ini, anak akan mendapatkan materi dari para ahli di masing-masing bidang studi.
Realitas pada zaman sekarang menunjukkan bahwa sangat jarang ada orang tua yang mampu menguasai seluruh bidang studi agama secara mendalam sekaligus. Bahkan, seorang ustadz pun akan mengarahkan penanya kepada ustaz lain yang lebih kompeten ketika mendapati pertanyaan di luar bidang keahliannya, seperti dalam masalah ilmu waris atau faraid. Menemukan satu orang guru yang menguasai semua bidang studi pada masa ini sangatlah sulit. Keputusan melepas anak untuk merantau atau mondok akan membuka peluang besar bagi mereka untuk menyerap berbagai cabang ilmu langsung dari para ahlinya.
Melalui perantauan ilmu, anak juga akan berinteraksi dengan para guru yang memiliki beraneka ragam karakter. Di dalam catatan sejarah hidup para ulama, salah satu indikator keistimewaan (manaqib) seorang tokoh agama adalah ketika ia memiliki jumlah guru yang sangat banyak.
Sebagai contoh, Imam Bukhari rahimahullah bercerita bahwa beliau memiliki seribu orang guru. Seluruh guru beliau merupakan ahli sunnah yang berkompeten serta memiliki kapabilitas tinggi untuk diambil ilmunya. Memiliki jumlah guru yang banyak mendatangkan manfaat yang besar bagi seorang penuntut ilmu, salah satunya adalah agar ia tidak terjebak ke dalam sikap fanatik.
Sikap fanatik ditunjukkan dengan keengganan seseorang untuk menerima ilmu jika tidak disampaikan oleh ustadz tertentu yang disukainya. Kaum muslimin dilarang keras memiliki sifat fanatik kelompok atau golongan yang buta terhadap kebenaran. Melalui interaksi dengan banyak guru yang kompeten, cara pandang seorang penuntut ilmu akan menjadi lebih luas, toleran, dan terhindar dari sikap fanatik yang sempit.
Pembelajaran dari berbagai guru yang berbeda akan menjaga seorang penuntut ilmu dari bahaya penyakit fanatisme. Guru secerdas apa pun tetap merupakan seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sifat fanatik terhadap satu figur secara buta harus dihindari karena kebenaran mutlak hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Mengingat tujuan utama merantau adalah untuk menambah ilmu agama, orang tua dituntut untuk bersikap sangat selektif dan tidak boleh asal-asalan dalam memilih pondok pesantren bagi anak. Sikap ceroboh dalam memilih lembaga pendidikan dapat mendatangkan risiko besar, seperti fenomena pagar makan tanaman atau terjadinya hal-hal buruk yang tidak diinginkan pada anak. Jika orang tua tidak memiliki latar belakang dunia pesantren, langkah terbaik adalah bertanya dan meminta rekomendasi kepada pihak yang terpercaya.
Proses pengenalan pondok pesantren sebaiknya dilakukan secara matang dan terencana, bukan secara instan. Sebagai contoh, survei dan kunjungan ke lembaga target dapat dimulai sejak anak masih berusia taman kanak-kanak (TK). Anak diajak berkunjung secara berkala setiap tahun dari kelas satu hingga kelas enam sekolah dasar sambil diberikan pemahaman tentang rencana masa depannya. Melalui metode ini, anak tidak akan merasa seperti membeli kucing dalam karung karena proses adaptasi psikologisnya sudah berjalan lama.
Cara-cara instan yang menjebak anak tidak boleh dilakukan, seperti berbohong dengan modus mengajari anak pergi piknik tetapi berujung pada tindakan meninggalkan anak secara tiba-tiba di sebuah pondok pesantren. Orang tua berkewajiban memastikan kualitas lembaga tersebut dengan meneliti beberapa indikator utama:
- Guru: Aspek pertama dan paling utama adalah memeriksa rekam jejak para pengajar, apakah mereka merupakan figur yang terpercaya dan dapat dijadikan teladan yang baik atau tidak.
- Kurikulum: Memastikan materi pembelajaran yang diterapkan bersifat bagus dan terstruktur.
- Alumni: Melihat bagaimana kualitas dan kiprah para lulusan dari lembaga tersebut di masyarakat.
- Fasilitas: Aspek sarana dan prasarana fisik ditempatkan pada urutan sekian setelah urusan kompetensi guru terpenuhi.
Manfaat Merantau: Menguatkan Mental dan Kemandirian
Manfaat besar kedua dari keputusan melepas anak untuk merantau adalah untuk menguatkan mental serta membentuk kemandirian. Setiap anak memerlukan mental yang kokoh karena roda kehidupan tidak selalu berjalan mudah. Manusia dipastikan akan menghadapi berbagai fase kesulitan, baik berupa penyempitan ekonomi, konflik hubungan sosial, maupun problematika hidup lainnya. Melepas anak untuk merantau dan hidup jauh dari zona nyaman keluarga merupakan salah satu sarana preventif yang sangat efektif untuk mempersiapkan mereka menghadapi kompleksitas kehidupan masa depan dengan jiwa yang tegar, mandiri, dan pantang menyerah.
Terdapat beberapa sisi mentalitas positif yang akan didapatkan oleh seorang anak ketika ia merantau atau menempuh pendidikan di pondok pesantren.
1. Ketangguhan Emosional
Anak yang merantau akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara emosional karena ia harus berpisah dengan orang tuanya. Proses menahan perasaan rindu, baik yang dirasakan oleh orang tua maupun anak, terbukti dapat menguatkan mental.
Pengalaman berpindah tempat dari satu provinsi ke provinsi lain demi menuntut ilmu pada masa lalu menuntut perjuangan yang berat karena keterbatasan moda transportasi. Perjalanan jauh yang harus ditempuh dengan berganti-ganti bus, angkutan kota, hingga becak membuat proses perantauan menjadi sangat menantang.
Fase awal merantau seringkali diwarnai dengan tangisan karena proses adaptasi. Di sisi lain, orang tua di rumah juga kerap mengalami syok emosional hingga jatuh sakit akibat menahan rindu kepada buah hatinya.
Jika orang tua tidak memiliki pendirian yang kuat, mereka akan cenderung membawa anak kembali pulang ke rumah. Orang tua harus bersikap teguh dan memandang fase berat tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi belaka. Setelah fase kritis tersebut terlewati, anak akan berhenti menangis dan kondisi kesehatan orang tua akan kembali pulih.
Manfaat besar di balik proses ini adalah terbentuknya ketangguhan mental. Cepat atau lambat, setiap manusia pasti akan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, terutama perpisahan yang disebabkan oleh kematian.
Apabila anak tidak dibiasakan untuk berpisah sejak dini, perpisahan yang sesungguhnya akibat kematian akan terasa terlampau berat. Sebaliknya, kebiasaan berpisah selama sekian bulan atau sekian tahun demi menuntut ilmu akan melatih jiwa seseorang. Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan orang yang disayangi wafat, kesedihan tetap ada, namun ia tidak akan jatuh terpuruk karena mentalnya telah terlatih untuk menghadapi perpisahan.
2. Adaptasi Sosial
Di dalam lingkungan pondok pesantren, anak akan bertemu dengan banyak teman yang memiliki latar belakang dan karakter yang beraneka ragam. Melalui interaksi harian tersebut, anak dilatih untuk berkomunikasi serta beradaptasi dengan berbagai macam kepribadian manusia.
Kemampuan adaptasi sosial ini sangat dibutuhkan ketika anak kelak terjun ke dunia nyata. Setelah menyelesaikan masa pendidikannya, anak akan bekerja dan hidup di tengah masyarakat atau lingkungan perumahan yang heterogen. Kemampuan memahami karakteristik orang lain yang berbeda-beda akan membantunya menjalani kehidupan sosial dengan baik.
Interaksi sosial anak yang merantau akan semakin kaya karena ia terbiasa bertemu dengan beraneka ragam manusia di masjid maupun dalam perjalanan. Sejak dini, anak dibiasakan berinteraksi dengan orang yang baik, yang kurang baik, yang berkarakter keras, yang lembut, yang kaya, yang miskin, yang pintar, yang kurang pintar, hingga yang memiliki warna kulit berbeda. Melalui pembiasaan tersebut, mentalitas anak untuk beradaptasi dengan kemajemukan manusia akan terbangun secara kokoh.
3. Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Di samping adaptasi sosial, anak yang menuntut ilmu di pondok pesantren akan mendapatkan pelatihan kemandirian secara teknis. Anak dituntut untuk mencuci baju, mencuci piring, merapikan kasur, menyapu, mengepel, serta melipat pakaiannya sendiri. Aktivitas-aktivitas tersebut sering kali tidak dilakukan saat anak berada di rumah.
Banyak fenomena menunjukkan anak yang sudah menempuh pendidikan strata satu (S1) sekalipun masih mengandalkan bantuan asisten rumah tangga hanya untuk merapikan tempat tidur. Di lingkungan pondok pesantren, anak mau tidak mau harus melakukan seluruh pekerjaan domestik tersebut secara mandiri sehingga tidak tumbuh menjadi pribadi yang selalu bergantung kepada orang lain.
Perantauan juga menjadi sarana efektif untuk melatih rasa tanggung jawab dan kedisiplinan. Selama berada di pesantren, tanggung jawab untuk menjaga barang-barang pribadi seperti sepatu, baju, sendok, dan sandal sepenuhnya berada di tangan anak itu sendiri. Hal ini mendidik anak untuk terbiasa meletakkan barang pada tempatnya demi menghindari kehilangan atau kesulitan saat mencari barang tersebut.
Kondisi ini berbeda dengan kebiasaan anak di rumah yang sering kali meletakkan tas, kaos kaki, sepatu, dan pakaian secara sembarangan di berbagai sudut rumah setelah pulang sekolah. Saat akan kembali berangkat ke sekolah, orang tua yang akhirnya sibuk mencari barang-barang tersebut. Kedisiplinan membutuhkan latihan yang konsisten.
Apabila anak selalu dimanja di rumah dan tidak dididik untuk memikul tanggung jawab, ia akan mengalami kesulitan besar saat kelak menjadi kepala rumah tangga. Seseorang yang belum cakap mengurusi dirinya sendiri dipastikan tidak akan mampu memimpin dan mengurusi anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
4. Keteraturan Ritme Hidup dan Manajemen Keuangan
Kehidupan di dalam pondok pesantren berjalan dengan ritme yang sangat teratur. Seluruh aktivitas harian telah dijadwalkan secara ketat, mulai dari waktu bangun tidur, mandi, masuk sekolah, makan, pergi ke masjid, hingga waktu belajar. Pola hidup yang teratur ini melatih anak untuk cerdas dalam membagi waktu.
Keterampilan manajemen waktu yang didapatkan selama merantau akan menjadi modal berharga saat anak sudah berumah tangga. Ia akan memahami pembagian waktu yang proporsional antara bekerja, mendidik anak, bersosialisasi dengan tetangga, serta menyelesaikan urusan-urusan lainnya.
Manfaat Merantau: Pelatihan manajemen keuangan.
Poin penting lain yang tidak kalah berharga dari aktivitas merantau adalah Pelatihan manajemen keuangan. Pondok pesantren yang berkualitas umumnya menerapkan kebijakan ketat dalam membatasi jumlah uang jajan para santri, bukan malah membebaskannya secara berlebihan. Kebijakan ini bertujuan untuk melatih anak dalam mengelola harta yang dimilikinya.
Sebagai gambaran, jika anak-anak di sekolah umum terbiasa mendapatkan uang saku harian dengan nominal tertentu, anak di pesantren harus mampu mengelola uang saku bulanan yang diberikan oleh orang tua. Anak dituntut untuk mengalkulasi pemanfaatan uang tersebut agar cukup membiayai kebutuhan harian, membeli perlengkapan mandi, detergen cuci, hingga mengantisipasi kebutuhan darurat lainnya selama satu bulan penuh. Melalui skema ini, anak akan terlatih secara alamiah untuk membedakan antara skala kebutuhan utama yang bersifat primer dengan keinginan yang bersifat sekunder.
Melalui pembatasan uang saku di tempat perantauan ilmu, anak dididik untuk mengamalkan prinsip ayat ini dengan tidak bersikap boros sekaligus mampu menahan diri dari pemenuhan keinginan yang belum mendesak.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Memilihkan Guru Terbaik untuk Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56294-tradisi-rihlah-dalam-menuntut-ilmu/